Selasa, 12 Februari 2019

Nasihat Tersirat Sang Guru

Santri itu membaca ayat demi ayat Al-Qur'an di depan seorang Guru yang Alim. Sementara sang Guru begitu menikmati lantunan ayat-ayat yang dibaca sang santri,  dengan sesekali memandang wajahnya untuk melihat olah gerak bibir sang santri.
Setelah sekian menit,  sang Guru meminta sang santri untuk menyelesaikan bacaannya lalu kemudian mengajaknya ngobrol ringan lalu mempersilahkannya untuk kembali ke tempat,  dan mempersilahkan peserta tes yang lain untuk maju.
Ditengah-tengah menguji santri yang kedua inilah, tiba-tiba belia memanggil saya -salah satu pendamping tes- untuk mendekat kepad beliau.
"Mohon maaf,  ada apa Ustadz memanggil saya"tanya saya sambil sedikit menundukkan kepala sebagai bentuk rasa ta'dzim kami kepada beliau.
"Kamu Hasan to?" Tanya beliau. "iya ustadz", "kamu pendampingnya Sholih toh, anak yang tadi saya tes?" tanya Ustadz kembali,  "iya Ustadz, ada apa Ustadz?" saya kembali bertanya penasaran.
Dengan pelan-sambil mendekatkan wajahnya ke wajah saya-beliau bertanya "bagaimana menurut pendapatmu tentang anak yang saya tes tadi?" "Sholih,  maksudnya Ustadz" tanya saya. "iya Sholih".
Dengan nada pelan sambil menerawang kebiasaan Sholih saat di kelas,  sayapun menjawab "Sholih itu...menurut saya anaknya pintar dan hafalannya lebih baik dibanding teman-temannya,  oleh karena itu anaknya agak sedikit merasa bisa sehinggga cenderung kurang hati-hati Ustadz."..
Ehm...(sambil manggut2) sang Ustadz mencoba menelaah jawaban saya. Lalu belia berkata "sudah,  apa ada lagi yang bisa Hasan ceritakan?". "Sudah cukup  Ustadz" jawab saya.

"Gini Hasan, saya mau titip anak ini kepada kamu. Karena anak ini punya keistimewaan, dia lain dari teman-temannya. Saya merasakan ada kejernihan dari dalam hatinya, itu bisa saya rasakan saat saya mendengar bacaan Al-Qur'annya"
Ustadz mencoba melanjutkan
"Dia akan jadi penerus Islam yang mumpuni,  tolong bimbing dia Hasan..insya'Allah...insya'Allah".
Jawaban Ustadz membuat saya malu, karena saya tidak mampu menangkap sinyal kebaikan dari diri sang Sholih,  tapi justru yang saya tangkap adalah sisi kekurangannya, yang tentunya itu sebenarnya bukanlah kekurangan, tapi akibat dari su'udzon saya kepadanya.

Dari percakapan singakat tersebut, saya merasa ada pelajaran berharga yang selama ini hilang dari diri saya, yaitu
"Lihatlah Kebaikan Orang Lain Terlebih Dahulu Sebelum Melihat Keburukannya"
Karena itu akan membuatmu lebih bisa menerima orang lain...

Wallahu a'lam

Samarinda,  12 Peb 2019