Rabu, 13 Mei 2020

KITA & COVID-19

Bissmillah wal  hamdulillah
Allahumma Sholli 'Ala Sayyidina Muhammad.

Mungkin ini sudah menjadi jalan kehidupan manusia di muka bumi. Entah ini ujian, cobaan ataukah peringatan dari Allah sang pemiliki jagad. Yang jelas, ini semua - wabah covid-19 - tidak terjadi dengan sendirinya, akan tetapi terjadi karena ada yang menghendakinya. Oleh karena itu, waspada terhadap kehadiran makhluq yang namanya corona ini tidak boleh melupakan sang pencipta dan pembuatnya.

Ketika Allah menghendaki ini terjadi kepada makhluqnya, maka sudah barang tentu kehendak itu ada maksud dan tujuaanya. Karena Allah tidak akan menciptakan sesuatu dengan sia-sia (tanpa manfaat), sebagaimana yang  tertera dalam Q.S. Shad ayat 27.

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۚ ذَٰلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ 

"Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir; maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka". [Shâd/38:27].

Dan tentu hanya orang-orang yang bersabar dan berakal sehatlah yang mampun mengambil manfaat dari kejadian pandemi virus corona ini.

Pembaca yang dirahmati Allah, memang banyak ketidak nyamanan yang kita rasakan disaat pandemi  ini menimpa tempat kita atau bahkan kita sendiri (na'udzubillah), seperti banyaknya orang yang meninggal karena terpapar olehnya, banyaknya tempat-tempat usaha yang tutup yang berakibat banyaknya pengangguran, pembelajaran harus dengan online yang membuaat orang tua kebingungan, tidak bisa ibadah secara berjama'ah seperti biasanya, dan yang tidak kalah sedihnya adalah kita yang mau mudik ke kampung halaman terpaksa harus mengurungkan niatnya karena adanya larangan mudik akibat dari merebaknya makhluq Allah yang berukuran super kecil tersebut.

Meskipun banyak ketidak nyamanan yang kita rasakan disaat wabah ini menimpa tempat atau bangsa tercinta ini, tugas kita adalah: 

Pertama, mengembalikan semua kepada sang Pencipta dan Pengaturnnya yaitu Allah SWT disertai dengan usaha-usaha dzohir ( sering cuci tangan, membawa masker, menjaga jarak dan tidak keluar rumah kecuali mendesak) dan usaha bathin (perbanyak ibadah dan do'a). Hal ini karena tidak ada sesuatupun yang terjadi di dunia ini kecuali atas kehendak-Nya. Penyebaran virus dari satu orang ke orang yang lain, itu semua tidak luput dari pengetahuan Allah. itu artinya ketika seseorang terkapar virus berarti Allah memang menghendaki orang tersebut terpapar virus. oleh karena itu berserah diri kepada Allah disertai usaha dzhohir meruapakan jalan terbaik menghadapi wabah ini. Kita tidak boleh terlalu percaya dengan protokol medis dan mengabaikan kehendak Allah, juga tidak boleh terlalu bergantung kepada Allah dan melupakan usaha atau ikhtiar dzohir (protokol medis). keduanya harus berjalan secara seimbang.


Kedua, tidak mudah menyalahkan orang lain terutama pemerintah yang sudah berupaya sebaik mungkin untuk kebaikan bangsa ini, dan yakinlah bahwa para pejabat kita juga ingin agar wabah ini segera berakhir, jadi beliau-beliau insya'Allah akan memberikan yang terbaik bagi rakyatnya. hanya orang-orang yang berhati batu yang dengan sengaja membiarkan virus ini menyebar tanpa ada penanganan serius. yakinlah masih banyak orang-orang baik yang ada dijajaran pemerintahan. Janganlah terlalu berlebihan menyalahkan orang lain dan pemerintah, tapi coba lihat diri kita, sudahkan kita membantu bangsa ini untuk penanganan covid-19 ini?.

Ketiga, sebarkan informasi yang positif yang bisa menghidupkan harapan orang lain, dan hindari menyebarkan berita atau kabar yang hanya akan membuat orang lain berputus asa ditengah wabah covid-19. yakinkan pada orang lain bahawa cobaan ini akan berakhir dengan membawa hikmah yang banyak. Ingatlah bahwah Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang, dan kasihnya Allah sungguh teramat luas, dan 

Keempat, hindari sentimen karena perbedaan pendapat.
Ditengah pandemi covid melanda Bangsa Indonesia, ada beberapa daerah yang menerapkan program pembatasan sosial, akibatnya dibeberapa daerah keluar keputusan bersama antara Bupati/Walikota, MUI dan instansi lain terkait pembatasan kegiatan keagamaan yang dilakukan di masjid, seperti sholat jama'ah, sholat jum'at dan majlis ta'lim. keputusan ini menimbulkan polemik di masyarakat, terlebih ketika ada beberapa tokoh agama yang mempunyai pandangan berbeda terkait keputusan tersebut. Ada yang sependapat dan ada yang beranggapan bahwa  pelarangan itu berlebihan. Menyikapi ini, kita tidak perlu terlalu fanatik dan kaku, maksudnya perbedaan itu pasti ada, dan menyatukan banyak orang itu susah jadi apa yang kita anggap baik maka jalankanlah dan do'akan kebaikan kepada orang lain yang belum melaksanakan seperti kita. Dengan berusaha rukun dan tetap menjaga hubungan, baik jasad maupun rohani kita berharap Allah segera mengangkat wabah di bangsa ini. amii..

Sementara ini yang dapat penulis corekan, semoga bermanfaat.
Wallahu a'lam.